Ulama Instan
![]() |
| Sumber : www.tokopedia.com |
Kali ini penulis enggan menyalah-nyalahi globalisasi, hihi. Tema yang diangkat lebih bertujuan untuk menyadarkan diri sendiri dan khalayak ramai pada umumnya.
Gelar ulama identik pada seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam(fahmun 'amiq) terhadap berbagai disiplin ilmu agama, seperti fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, akhlaq, adab(lughoh) dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu, ulama yang cakap pada satu bidang(fan ilmu) pastilah mumpuni dalam bidang ilmu lainnya. Sebagai contoh, dapatlah kita menilik sosok Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang terkenal akan kepiawaiannya dalam tafsir (sehingga dapat melanjutkan karya Imam Mahalli di bidang tafsir yang belum sempat terselesaikan) namun tidak menafikan bahwa ilmu-ilmu lain tidaklah luput dari perhatiannya. Begitu pula Imam Nawawi yang populer akan kefaqihannya. Imam Nawawi juga memiliki karya lain seperti Bustanul 'Arifin(tasawuf), Riyadhussholihin(hadits), At-tibyan fi adabi hamalatil qur'an(akhlaq), dst.
Tokoh yang telah disebutkan tadi dapat dipastikan bukan sekedar sekali atau dua kali mengaji kemudian dengan sekonyong-konyong berani tampil di muka umum untuk menyampaikan ayat ataupun hadis yang diambil secara serampangan. Bukan! Tentu saja untuk memperoleh gelar ulama dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Tidak cukup bermodal ucapan "Ane, Ente, Antum" disertai beberapa kosa kata arab(yang dipaksa fasih justru terkesan aneh) dan kalimat thayyibah seseorang langsung dianggap sebagai ulama. Perkataan yang bukan termasuk hadis dikatakan sebagai hadis, jadilah ia pemalsu hadis yang kemana-mana menyebarkan kebohongan.
Perlulah kita merenung sejenak, kembali menyadari di manakah "posisi" kita sebenarnya. Pasalnya, kerapkali orang-orang menjustifikasi perbuatan tersebut dengan mengutip potongan hadis kanjeng Nabi Saw. yang berbunyi:
بلغوا عني ولو آية (أو كما قال الرسول)
"Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat"
Kita semua agaknya lupa bahwa dalam memahami sebuah hadis pun dibutuhkan beberapa perangkat keilmuan seperti gramatikal arab, mustholah hadis, asbabul wurud, dst. Itu baru satu hadis. Bagaimana dengan hadis-hadis yang lain?
Justifikasi selanjutnya ialah pernyataan "Jika otoritas dakwah hanya dapat dilakukan oleh yang selalu benar dan tak pernah salah. Maka, tunggu saja malaikat naik ke atas mimbar" atau "Daripada media sosial ramai dengan maksiat, lebih baik diisi dengan konten dakwah". Perkataan tersebut tidaklah salah, hanya saja penggunaannya yang terkadang kurang bijak sehingga dijadikan sebagai tameng pelindung oleh orang yang gemar berdakwah namun tidak dibarengi dengan kontinuitas belajar agama agar kemudian tak lagi keliru dalam menyampaikan ayat, hadis, maupun maqolah.
Pertanyaannya, masihkah kita masih bangga dengan titel ulama/ustad/kyai yang disematkan pada diri sementara ilmu yang didapat hanya bersumber dari simbah google dan pakdhe youtube? Misal ada yang nyeletuk "Lho, itukan gelar yang diberikan masyarakat". Iya, mas/mbak. Tapi, sadar diri juga penting. Sadar diri yang dibarengi dengan kemauan untuk belajar lagi. Ben gak gawe hadis palsu, ngunu lho!
Wallahu a'lam
Tabik,,
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar