Milenialisantri
Arus globalisasi yang sangat
deras dan tidak dapat dibendung membuat hal positif dan negatif yang masuk
tidak dapat difilter lagi. Hal itulah yang dialami oleh seorang remaja bernama
Ryan Pahlevi. Remaja asal Pesanggrahan, Jakarta Selatan ini gemar mengikuti
trend pakaian yang ke barat-baratan. Selain itu, ia juga sering membuang-buang
waktu bersama teman-temannya dengan nongkrong, bermain gitar, dan mengganggu
tetangga sekitar.
Di suatu sabtu pagi, ayah
pahlevi menasehatinya tentang keseharian pahlevi yang makin hari makin tidak
jelas “Levi,,mau sampe kapan lo terus-terusan kaya gini? . Yaa Allah,, kapan lu
mau berubah?” ujar ayah pahlevi. “Yailah babeh kaya gak pernah muda aja.
Namanya juga anak muda. Mumpung masih muda levi puas-puasin maen. Nanti kalo
udah tua, baru levi rajin ibadah.” jawab pahlevi santai. “Astagfirullah, tong...
Istighfar! Umur itu enggak ada yang tau, vi. Kalo lu masih gini-gini aja dan
gak ada perubahan, babeh pengen masukin elu ke pesantren! Biar elu ngerti ilmu
agama secara mendalam. Biar lu tau mana yang boleh dikerjain mana yang kagak”.
Pahlevi kaget dengan perkataan ayahnya “Enggak beh, levi gak mau mondok. Mondok
tuh gak enak, gak bebas. Pokoknya levi gak mau mondok!”. “Okeh, kalo lu gak mau
berubah dan gak mau mondok. Mulai sekarang motor lu babeh sita!” tegas ayahnya.
Akhirnya pahlevi pun
tunduk dengan keputusan ayahnya yang ingin mendaftarkannya masuk pesantren. Pesantren
yang dimaksud ialah Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang terletak di kabupaten
Pati, Jawa Tengah. Konon sang pengasuh pesantren ini terkenal akan rasa cinta
tanah air dan jiwa nasionalismenya yang tinggi. Disamping mengajarkan ilmu
agama, beliau juga sering menyelingi nilai-nilai kebangsaan di tengah
pengajiannya.
Tibalah hari pendaftaran
Ponpes Nurul Hikmah, wali santri berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya
di ruang aula pesantren. Disana para pengurus telah bersiap-siap untuk menerima
calon santri baru. Setelah semua urusan selesai, sang ayah mengajak Pahlevi untuk sowan ke ndalem pak Kyai sebagaimana adat di
seluruh pesantren di jawa. Dawuh Kyai Khozin(pengasuh Ponpes Nurul Hikmah) yang
selalu terngiang di kepala Pahlevi ialah “Hidup itu harus bermanfaat dimanapun
kita berada. Sebagaimana para santri dan ulama nusantara jaman dulu telah
mengajari kita bahwa perjuangan mereka melawan para penjajah ialah berdasarkan
agama dan kecintaan terhadap tanah air. Sehingga manfaat dari kemerdekaan yang
diraih oleh para kyai dan santri tidak hanya dapat dinikmati oleh umat islam,
namun seluruh rakyat Indonesia pun turut merasakannya”.
Pahlevi yang masih santri
baru, terus berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan pelajaran
madrasah salafiyah. Awalnya ia kesulitan memahami bahasa Jawa. Namun, lambat
laun ia terbiasa dan lancar mengucapkan kosa kata Jawa. Selama di pesantren ia
bersahabat dengan tiga orang kenalannya, yaitu Afif, Maulana, dan Reza. Afif
ialah santri yang paling cerdas diantara mereka. Sehingga seringkali Pahlevi
meminta diajarkan pelajaran yang belum difahami. Apalagi soal ilmu nahwu, afif
memang ahlinya. Maulana ialah santri penurut. Sedangkan Reza ialah santri
pemilik suara emas yang lantunan sholawatnya selalu dinanti-nanti para santri
ketika kegiatan diba’iyyah malam Jum’at. Bahkan namanya sangat masyhur
dikalangan santriwati. Maka tak heran jika followers
instagramnya mencapai ribuan. Mereka berempat mendapat julukan "PUNOKAWAN" dikarenakan mereka sering ngopi dan belajar bersama.
Di suatu pengajian
nadzhom al-Imrithiy yang diajarkan
oleh Gus Hilman, beliau menerangkan ‘’Kepercayaan diri adalah modal utama untuk
meraih kesuksesan. Jika kamu tidak yakin terhadap dirimu sendiri atau minder.
Maka yang kamu lakukan tidaklah berguna dan tidak mendapat apa-apa. Sebagaimana
yang didawuhkan Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithie Barang
siapa yang tidak yakin terhadap apa yang dilakukannya, maka hal itu akan
sia-sia.’’
Tak terasa sekarang ia telah
menempuh tahun keempat selama nyantri di ponpes Nurul Hikmah. Maka pada tahun
ini, ia dan kawan-kawannya harus menghafalkan nadzom Alfiyyah Ibnu Malik yang
merupakan momok mengerikan bagi sebagian santri. Pernah suatu ketika, Pahlevi
yang sedang kesulitan menghafal bab Isytighal mencurahkan seluruh
kegeundahannya kepada Afif “Fif, kok hafalan Alfiyyah rasanya susah banget
ya?”. “Sebenarnya hafalan Alfiyyah itu mudah kok,Vi. Kamunya aja yang harus
yakin sama diri kamu sendiri. Kamu masih inget kan perkataan Syaikh Syarafuddin
Yahya al-Imrithie Barang siapa yang tidak yakin terhadap apa yang dilakukannya,
maka hal itu akan sia-sia “. “Oiya fif, masih inget”. “Nah, makanya kamu
harus punya niat dan tekad yang kuat. In sya Allah bakal dipermudah kok”. “Oke
fif. Makasih ya”. “Iya, sama-sama”.
Setahun kemudian..................
Pahlevi kini telah memasuki
tahun terakhirnya di pesantren. Ia merasa bingung tentang apa yang harus
dilakukannya setelah lulus nanti. Setelah sekian lama merenung, ketiga kawannya
datang menghampirinya “eh vi, kok diem aja sih. Lagi ngelamunin cewek ya?”
ucapan reza langsung mencairkan suasana. “Au nih, dari tadi kok saya liatin
diem aja. Emang ada masalah apa tho?” tanya maulana. “Aku lagi bingung mikirin
rencana setelah lulus nanti mau nerusin kuliah atau langsung cari kerja” jawab
Pahlevi. Disela-sela obrolan, tiba-tiba Andika datang “Pahlevi, dicariin sama
Ustadz Rahmat. Kamu disuruh ke kantor sama beliau”. “Okeh, meluncur bos. Aku
duluan yaa guys. Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalam” jawab mereka kompak.
Sesampainya di kantor, ia
langsung mengucapkan salam dan masuk. Ustadz rahmat mempersilahkannya duduk dan
mengajaknya ngobrol tentang rencana Pahlevi setelah lulus nanti. Kemudian
beliau menyodorkan brosur beasiswa salah satu universitas terkemuka di timur
tengah dan menawarkannya kepada Pahlevi. Kemudian Pahlevi mengabarkan hal tersebut kepada keluarganya dirumah. Ayahnya pun mengizinkannya. Setelah itu, Pahlevi
mengurus pendaftaran, pemberkasan, serta mengikuti tes. Ia dinyatakan lolos dan
diterima di universitas tersebut.
Setelah haflatul wada dan berpamitan
kepada para santri, asatidz, dan Kyai Khozin. Pahlevi berangkat menuju
universitas yang dimaksud. Seperti mahasiswa pada umumnya, ia menjalankan
hari-hari disana seperti biasanya. Ketika ia memiliki waktu luang, ia
menyempatkan diri untuk menghadiri majelis para ulama disana. Sepulangnya dari
studi S1-nya, ia langsung terjun ke masyarakat dan menyebarkan dakwah islam
yang moderat dan dapat diterima semua golongan terutama
generasi muda. Ia teringat dawuh Kyai Khozin yang mengiringi keberangkatannya
dulu “Nak, merantaulah kemanapun engkau mau. Tapi ingatlah, kapanpun dan
dimanapun engkau. Engkau tetaplah muslim, engkau tetaplah bagian dari
Indonesia. Maka janganlah sekali-kali engkau melupakan dari mana engkau berasal. Sekarang pergilah, doaku selalu
menyertai para santriku”.

Komentar
Posting Komentar