Milenialisantri

www.freepik.com


Arus globalisasi yang sangat deras dan tidak dapat dibendung membuat hal positif dan negatif yang masuk tidak dapat difilter lagi. Hal itulah yang dialami oleh seorang remaja bernama Ryan Pahlevi. Remaja asal Pesanggrahan, Jakarta Selatan ini gemar mengikuti trend pakaian yang ke barat-baratan. Selain itu, ia juga sering membuang-buang waktu bersama teman-temannya dengan nongkrong, bermain gitar, dan mengganggu tetangga sekitar.

Di suatu sabtu pagi, ayah pahlevi menasehatinya tentang keseharian pahlevi yang makin hari makin tidak jelas “Levi,,mau sampe kapan lo terus-terusan kaya gini? . Yaa Allah,, kapan lu mau berubah?” ujar ayah pahlevi. “Yailah babeh kaya gak pernah muda aja. Namanya juga anak muda. Mumpung masih muda levi puas-puasin maen. Nanti kalo udah tua, baru levi rajin ibadah.” jawab pahlevi santai. “Astagfirullah, tong... Istighfar! Umur itu enggak ada yang tau, vi. Kalo lu masih gini-gini aja dan gak ada perubahan, babeh pengen masukin elu ke pesantren! Biar elu ngerti ilmu agama secara mendalam. Biar lu tau mana yang boleh dikerjain mana yang kagak”. Pahlevi kaget dengan perkataan ayahnya “Enggak beh, levi gak mau mondok. Mondok tuh gak enak, gak bebas. Pokoknya levi gak mau mondok!”. “Okeh, kalo lu gak mau berubah dan gak mau mondok. Mulai sekarang motor lu babeh sita!” tegas ayahnya.

Akhirnya pahlevi pun tunduk dengan keputusan ayahnya yang ingin mendaftarkannya masuk pesantren. Pesantren yang dimaksud ialah Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang terletak di kabupaten Pati, Jawa Tengah. Konon sang pengasuh pesantren ini terkenal akan rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalismenya yang tinggi. Disamping mengajarkan ilmu agama, beliau juga sering menyelingi nilai-nilai kebangsaan di tengah pengajiannya.

Tibalah hari pendaftaran Ponpes Nurul Hikmah, wali santri berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya di ruang aula pesantren. Disana para pengurus telah bersiap-siap untuk menerima calon santri baru. Setelah semua urusan selesai, sang ayah mengajak Pahlevi untuk sowan ke ndalem pak Kyai sebagaimana adat di seluruh pesantren di jawa. Dawuh Kyai Khozin(pengasuh Ponpes Nurul Hikmah) yang selalu terngiang di kepala Pahlevi ialah “Hidup itu harus bermanfaat dimanapun kita berada. Sebagaimana para santri dan ulama nusantara jaman dulu telah mengajari kita bahwa perjuangan mereka melawan para penjajah ialah berdasarkan agama dan kecintaan terhadap tanah air. Sehingga manfaat dari kemerdekaan yang diraih oleh para kyai dan santri tidak hanya dapat dinikmati oleh umat islam, namun seluruh rakyat Indonesia pun turut merasakannya”.

Pahlevi yang masih santri baru, terus berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan pelajaran madrasah salafiyah. Awalnya ia kesulitan memahami bahasa Jawa. Namun, lambat laun ia terbiasa dan lancar mengucapkan kosa kata Jawa. Selama di pesantren ia bersahabat dengan tiga orang kenalannya, yaitu Afif, Maulana, dan Reza. Afif ialah santri yang paling cerdas diantara mereka. Sehingga seringkali Pahlevi meminta diajarkan pelajaran yang belum difahami. Apalagi soal ilmu nahwu, afif memang ahlinya. Maulana ialah santri penurut. Sedangkan Reza ialah santri pemilik suara emas yang lantunan sholawatnya selalu dinanti-nanti para santri ketika kegiatan diba’iyyah malam Jum’at. Bahkan namanya sangat masyhur dikalangan santriwati. Maka tak heran jika followers instagramnya mencapai ribuan. Mereka berempat mendapat julukan "PUNOKAWAN" dikarenakan mereka sering ngopi dan belajar bersama.

Di suatu pengajian nadzhom al-Imrithiy yang diajarkan oleh Gus Hilman, beliau menerangkan ‘’Kepercayaan diri adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Jika kamu tidak yakin terhadap dirimu sendiri atau minder. Maka yang kamu lakukan tidaklah berguna dan tidak mendapat apa-apa. Sebagaimana yang didawuhkan Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithie Barang siapa yang tidak yakin terhadap apa yang dilakukannya, maka hal itu akan sia-sia.’’

Tak terasa sekarang ia telah menempuh tahun keempat selama nyantri di ponpes Nurul Hikmah. Maka pada tahun ini, ia dan kawan-kawannya harus menghafalkan nadzom Alfiyyah Ibnu Malik yang merupakan momok mengerikan bagi sebagian santri. Pernah suatu ketika, Pahlevi yang sedang kesulitan menghafal bab Isytighal mencurahkan seluruh kegeundahannya kepada Afif “Fif, kok hafalan Alfiyyah rasanya susah banget ya?”. “Sebenarnya hafalan Alfiyyah itu mudah kok,Vi. Kamunya aja yang harus yakin sama diri kamu sendiri. Kamu masih inget kan perkataan Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithie Barang siapa yang tidak yakin terhadap apa yang dilakukannya, maka hal itu akan sia-sia “. “Oiya fif, masih inget”. “Nah, makanya kamu harus punya niat dan tekad yang kuat. In sya Allah bakal dipermudah kok”. “Oke fif. Makasih ya”. “Iya, sama-sama”.

             Setahun kemudian..................

Pahlevi kini telah memasuki tahun terakhirnya di pesantren. Ia merasa bingung tentang apa yang harus dilakukannya setelah lulus nanti. Setelah sekian lama merenung, ketiga kawannya datang menghampirinya “eh vi, kok diem aja sih. Lagi ngelamunin cewek ya?” ucapan reza langsung mencairkan suasana. “Au nih, dari tadi kok saya liatin diem aja. Emang ada masalah apa tho?” tanya maulana. “Aku lagi bingung mikirin rencana setelah lulus nanti mau nerusin kuliah atau langsung cari kerja” jawab Pahlevi. Disela-sela obrolan, tiba-tiba Andika datang “Pahlevi, dicariin sama Ustadz Rahmat. Kamu disuruh ke kantor sama beliau”. “Okeh, meluncur bos. Aku duluan yaa guys. Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalam” jawab mereka kompak.

Sesampainya di kantor, ia langsung mengucapkan salam dan masuk. Ustadz rahmat mempersilahkannya duduk dan mengajaknya ngobrol tentang rencana Pahlevi setelah lulus nanti. Kemudian beliau menyodorkan brosur beasiswa salah satu universitas terkemuka di timur tengah dan menawarkannya kepada Pahlevi. Kemudian Pahlevi mengabarkan hal tersebut kepada keluarganya dirumah. Ayahnya pun mengizinkannya. Setelah itu, Pahlevi mengurus pendaftaran, pemberkasan, serta mengikuti tes. Ia dinyatakan lolos dan diterima di universitas tersebut.

Setelah haflatul wada dan berpamitan kepada para santri, asatidz, dan Kyai Khozin. Pahlevi berangkat menuju universitas yang dimaksud. Seperti mahasiswa pada umumnya, ia menjalankan hari-hari disana seperti biasanya. Ketika ia memiliki waktu luang, ia menyempatkan diri untuk menghadiri majelis para ulama disana. Sepulangnya dari studi S1-nya, ia langsung terjun ke masyarakat dan menyebarkan dakwah islam yang moderat dan dapat diterima semua golongan terutama generasi muda. Ia teringat dawuh Kyai Khozin yang mengiringi keberangkatannya dulu “Nak, merantaulah kemanapun engkau mau. Tapi ingatlah, kapanpun dan dimanapun engkau. Engkau tetaplah muslim, engkau tetaplah bagian dari Indonesia. Maka janganlah sekali-kali engkau melupakan dari mana engkau berasal. Sekarang pergilah, doaku selalu menyertai para santriku”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nahwiyyah Jawiyyah

Mempertahankan Eksistensi Pesantren di Tengah Gempuran Ngaji Online