Mempertahankan Eksistensi Pesantren di Tengah Gempuran Ngaji Online
Corak keislaman di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari negara-negara lainnya. Dari sinilah lahir sebutan Islam Nusantara(walaupun istilah nusantara dalam arti yang lebih luas merupakan cakupan dari beberapa negara di asia tenggara) sebagai simbol bahwa dalam penerapan nilai-nilai keislaman di bumi nusantara banyak mengalami akulturasi dengan ajaran Hindu-Buddha. Salah satu contohnya ialah Masjid Menara Kudus yang menggabungkan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Selain itu, penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Songo dengan pendekatan tasawuf dirasa lebih mudah diterima dan dipahami oleh penganut Buddha kala itu. Sebab, ajaran Buddha pun cenderung menekankan aspek pembersihan jiwa atau tazkiyatunnafs dengan banyak menjalankan laku tirakat.
Sebagai wadah pembekalan ajaran agama, Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren Ampel Denta sekaligus menjadi awal mula kemunculan pesantren di Indonesia. Istilah pondok berasal dari bahasa arab, yaitu funduq(فندوق) yang berarti asrama atau tempat penginapan. Sementara kata pesantren berasal dari bahasa sanskerta yaitu pesasthrian yang berarti tempat para cantrik atau sasthri mempelajari sasthra(kitab suci). Seiring berjalannya waktu, materi yang dipelajari di pesantren semakin variatif, menyesuaikan dengan kondisi perkembangan zaman.
Pesantren yang dahulu sering dicap ketinggalan zaman, karena hanya memfokuskan diri pada kajian turats, beberapa di antaranya kini telah memasukkan kurikulum modern seperti pelajaran Kimia, Fisika, Sosiologi, Ekonomi, Teknologi, dan lain sebagainya. Walaupun tak dapat dipungkiri masih terdapat pesantren-pesantren yang mempertahankan kultur salafnya.
Pergeseran Budaya
Dampak dari covid-19 yang terjadi beberapa tahun lalu sangat terasa dalam kehidupan. Terutama pergantian kegiatan yang biasanya dilakukan secara offline menjadi online. Bahkan, kegiatan online tersebut berlanjut hingga pasca covid-19. Hal inilah yang kemudian menstimulus sebagian orang untuk melakukan kegiatan ngaji secara daring via aplikasi semacam zoom dan google meet.
Tujuannya untuk memberikan wadah bagi orang-orang yang memiliki kesibukan atau terkendala jarak agar dapat mempelajari materi-materi tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan oleh pihak penyelenggara. Kegiatan ini merupakan suatu inovasi yang patut diapresiasi. Sebab, selain memudahkan, kegiatan ngaji online merupakan bagian dari syiar agama Islam. Namun, bagaimanapun adanya, kegiatan yang dilakukan secara online tidak dapat berjalan secara optimal sesuai dengan harapan. Entah kendala berupa koneksi yang terputus-putus ataupun efektifitas dan kenyamanan pembelajaran.
Nasib Pesantren
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, pesantren dan ngaji online memiliki kesamaan berupa mewadahi kegiatan pembelajaran keagamaan. Namun, pesantren tidak hanya memberikan pembelajaran secara materiil, melainkan menyertakan pendidikan moril. Inilah yang tidak bisa didapatkan lewat kegiatan ngaji online. Sebab, pembelajaran dari jarak jauh tidak memungkinkan adanya pengawasan guru secara penuh terhadap murid dalam laku kesehariannya.
Selain itu, hubungan('alaqah) batin antara murid dan guru dirasa sangat penting dalam pembelajaran ilmu agama. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan terkuat kenapa pesantren tidak kian tersingkirkan perannya di dalam membentuk karakter generasi masa kini. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan bahwa di masa mendatang pesantren akan punah, bahkan hilang dari peredaran.
Walhasil, pembelajaran di pesantren dan via ngaji online memiliki target masing-masing yang tidak dapat dibenturkan antara satu dengan yang lainnya. Jika ingin belajar agama secara mendalam silahkan mondok. Jika terkendala jarak dan waktu, ngaji online dapat menjadi solusi.

Komentar
Posting Komentar