Tersesat karena membaca?
"Jangan belajar filsafat, nanti kamu mikir yang aneh-aneh" "Jangan baca buku itu, nanti iman kamu goyah" dan berbagai macam larangan sejenisnya. Setidaknya itulah realita yang terjadi pada masyarakat kita. Stereotipe yang terkadang berlebihan menyebabkan rasa takut untuk mencari tau lebih lanjut isi dari buku yang dilarang. Jangankan membaca, melihatnya saja sudah menimbulkan kengerian!. Agaknya pepatah yang mengatakan "Buku adalah jendela dunia. Membaca adalah kuncinya" harus dipahami ulang bahwa tidak semua jendela boleh dibuka. Ada beberapa jendela yang terlanjur dicap buruk/berbahaya oleh masyarakat sehingga untuk membukanya harus berani melawan mainstream yang beredar. Namun, jika jendela dunia tersebut dibatasi. Bagaimana mungkin manusia dapat maju serta berkembang sesuai dengan perkembangan zaman?
Penilaian secara praktis yang telah saya sebutkan di atas berawal dari masih banyaknya manusia yang belum paham letak perbedaan antara pemikiran dan keyakinan. Perkara yang seharusnya cukup dipikir di kepala, cukupkanlah. Tak perlu dijadikan sebagai keyakinan dalam hati, begitupula sebaliknya. Kalau sudah mengerti, maka selesai sudah permasalahan. Di samping itu, bagaimana kita mengetahui bahaya dari mengkonsumsi heroin jika tak tau ilmu tentang narkotika? Apakah kita akan terus-menerus berpaku pada rasa curiga yang kadang benar kadang salah?
Wallahu a'lam
Komentar
Posting Komentar