Rubuhnya Pohon Cinta(3)

      

Sumber : www.unsplash.com

     Alhamdulillah, setelah 3 hari Eyang koma hari ini beliau sadarkan diri. Namun, dokter belum berkenan mengizinkan beliau pulang. Benar saja, Eyang banyak melupakan nama anggota keluarganya. Eyang hanya ingat Ayahku. "Rendi nang ndi?(Rendi dimana?)" "Hadir, Pak" jawab ayahku. Seluruh anggota keluarga berkumpul di kamar rumah sakit ketika itu. "Ren, iki sopo? Ko ono wong akeh?(Ren, ini siapa? Ko ada banyak orang?)" beliau terlihat kebingungan "Niki Rahmi, dst(Ini Rahmi, dst)" ayah menyebutkan nama masing-masing anggota keluarga Eyang. "Mbuh mbuh aku gak weruh(gatau aku gatau)". Kami sekeluarga hanya bisa meratapi keadaan Eyang saat ini.

     Aku pergi keluar kamar pasien, mengabari Ivanna tentang keadaan Eyang sekarang. "Yang sabar ya, den. Semoga Eyang cepet sehat lagi seperti semula" "Iya, na. Aamiin". 

     Hari demi hari telah berlalu, surat pindah sekolah telah diurus oleh Ayah. Sekarang adalah bulan ketiga diriku belajar di sekolah ini. Sekolahku saat ini tak kalah hebat dengan sekolahku sebelumnya. Aku mendapatkan banyak teman baru. Pelajaran pun dapat kuikuti dengan khidmat. Semenjak aku memasuki sekolah baruku, aku belum pernah mengabari ataupun mengontak Ivanna lagi karena kesibukan di sekolah dan merawat Eyang di rumah sakit. Namun, setiap kali aku merindukannya. Aku selalu memutar lagu Menepi, setiap kali aku dengar lagu itu aku teringat akan dirinya.

Bulan keempat.....

     Aku merasa kerinduan dalam dada ini sungguh menggebu-gebu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kucari cara agar dapat pergi ke Jakarta. Tiba-tiba, ada ibu yang sedang melihatku senyam-senyum sendiri menatap layar hape "Aden, lagi ngapain hayooo" tanya Ibu "Eh, hmm, anu ini lagi maen hape aja. Ada yang lucu" "Apa? Hmm, ibu tau nih. Pasti lagi deket sama cewe yah? Cepet banget baru bentaran di Semarang udah dapet cewe aja" "Hehe, iya bu. Mau liat ga?" "Mana? Coba sini ibu liat" kutunjukkan foto Ivanna kepada Ibuku, beliau bilang "Keliatannya orangnya cuek dan jutek gtu yah?" "Iya, bu. Gapapa kan kalo Aden deket sama perempuan, bu?" "Gapapa den, biar kamu paham sifat perempuan tuh kaya gimana. Biar gak kaget nanti kalo udah berumah tangga, pokoknya ibu percaya sama kamu" "Okeh, bu. Siap".

     Sekalian mengobati rasa rinduku kepada Kakek di Jakarta, aku izin pulang kepada kedua orangtuaku. Beliau mengizinkan. Surat izin pun kukirimkan kepada pihak sekolah. Namun, aku bingung ingin ke Jakarta dengan siapa?. Aku lihat Om Ridwan sedang mengemasi barangnya. "Om Ridwan mau kemana?" "Om mau ke Jakarta, ngelamar kerja sekalian pengen ketemu temen disana. Kenapa emang?" "Aden ikut ya om" "Ngapain? Kamu kan sekolah, den?" "Aden udah izin om, Ayah sama Ibu juga ngizinin. Pengen ketemu sama Kakek, kangen" "Owalah, yaudah ayo siap-siap. Tar siang kita berangkat" "Okeh, om. Siap"

     Bersama Om Ridwan, aku menuju Jakarta. Mengobati rindu kepada kakek juga Ivanna. Sepanjang perjalanan, aku terbayang akan dirinya. Selalu....

     "Den, bangun. Udah sampe Jakarta nih" Om Ridwan membangunkanku. "Gak kerasa ya om" "Kamu kan tidur, makanya gak kerasa". Aku langsung mengabari Ivanna tentang kedatanganku di Jakarta. Tumben sekali, padahal ia online tapi tak menghiraukan chat dariku. Ada apa ini? Aku bertanya kepada sahabatnya "Yeh den, dia kan udah beli hape baru. Nomernya juga baru" kemudian ia memberikan nomor Ivanna yang baru. Aku panik, khawatir jikalau nomornya yang lama dipegang oleh orangtuanya. Aku langsung mengirimkan permohonan maaf. Chatku terbalas. Ternyata, kedua nomor itu dipegang oleh Ivanna. "Kenapa den?" "Gua lagi di Jakarta nih, ketemuan yuk" "Sori den, gua gabisa. Semenjak lu pergi ke Jawa, gua gak pernah keluar rumah" "Owalah, yaudah kalo lusa gimana?" "Okedeh, gua usahain ya".

     Kemudian notifikasi chat masuk, dari kawanku "Bro, lu lagi di Jakarta?" "Iyanih" "Lagi sibuk ga? Nongkrong kuy" "Ayo, di tempat biasa yak" "Oke, siap"

     Di warkop "Ilham, gimana kabar lu? Sehat" sapaku kepada kawan lama "Alhamdulillah, sehat. Lu gimana? Betah kan disana?" "Iyanih" "Bentar, gua pesen kopi dulu ya". Aku membuka hape dan menscroll beranda instagram. "Den, lu masih sama Ivanna?" "Masih, ham. Kenapa emangnya?" "Lu gatau aja, semenjak lu ke Semarang. Dia pernah foto sama cowo" "Serius lu?" "Iya, den. Liat nih" Ilham mengunjukkan foto Ivanna sedang berfoto bersama orang-orang yang tak kukenali. Latar belakang foto tersebut bukanlah rumah Ivanna, aku yakin. Lalu aku teringat akan kata Ivanna "Semenjak lu pergi ke Jawa, gua gak pernah keluar rumah, den" lah ini?.

     Aku langsung menelpon Ivanna untuk menanyakan kembali perihal kata-katanya itu "Halo, Ivanna" "Iya, den. Kenapa?" "Lu beneran gak keluar rumah sama sekali?" "Iya, den. Beneran" "Serius?" "Iya, den" "Okedeh" langsung kututup telpon dan merenung. Ilham menanyakan "Lu abis nelpon Ivanna?" "Iya, ham" "Wkwk, kan udah gua bilang. Dia tuh gak sesuai sama ekspektasi lu. Ehh, lu nya aja yang tetep keras kepala" "Tapi dia foto rame-rame lho ini" "Iyasi, rame-rame. Tapi lu liat, dia rada dempet sama laki-laki di sebelahnya".

     Aku menstalk akun instagram Ivanna dan mencocokan laki-laki di foto tersebut dengan satu persatu akun yang ia follow. EDAN!. Tak kutemukan satu pun yang mirip, kucoba di akun-akun yang mengikuti Ivanna pun tak ada. Karena penasaran, aku bertanya kepada saudarinya, mungkin saja ia kenal dengan orang yang ada di foto ini. "Owalah, den. Gua kenal. Itumah Ivanna lagi foto sama sepupu-sepupunya. Yang laki juga sepupu gua ko". Akhirnya aku mendapat jawaban yang sedikit melegakan, namun tetap saja sanksi dengan pernyataan Ivanna "gua gak pernah keluar rumah" padahal latar belakang di foto tersebut bukanlah rumahnya.

     Notifikasi pesan masuk, Ivanna mengabari "den, hari Minggu gua gabisa keknya. Ada acara keluarga di parung" "Oh yaudah deh" balasku. Aku tak ingin membahas tentang ini kepada Ivanna, aku tak ingin ia risih ataupun mengakhiri hubungan ini.

     Keesokan harinya, lewat chat aku menceritakan kepada Ivanna bahwa ia telah dikenal oleh Ibuku. Ia bilang "Lu kok lucu banget si den. Oiya, gua pengen ngomong sesuatu sama lu. Sebenernya gua pengen ngomong ini dari lama" "Apa?" kemudian ia tak membalas chat dariku. Jarum jam terus berputar, terhitung sekitar 30 menit barulah ia membalas. "Tapi jangan marah ya" "Iya apa?" "Sebenernya gua gak ada perasaan apa-apa sama lu".

     Arghhhhh, rasanya perih sekali. Ia yang kucinta berkata seperti itu. "Kenapa gak jujur dari awal, na?" "Gua gak ngenakin sama lu". Akupun marah sejadi-jadinya, kami sempat berselisih tentang hal itu di whatsapp. Hingga akhirnya, ia memblokir kontakku. Pengorbananku untuk mendatanginya dari Semarang kini telah pupus, padahal aku telah membayangkan semuanya berjalan dengan mulus. Seakan runtuh seketika semua ekspektasi. Kini, pohon cinta yang hampir setiap hari kurawat dan kusirami menjadi layu menjemput mati.

     Aku mengurung diri di rumah kakek selama 2 hari, di hari ketiga aku mendapat kabar bahwa Eyang memanggil namaku. Akupun memutuskan untuk kembali ke Semarang. Setelah berpamitan dengan keluarga di Jakarta, aku menaiki bus jurusan Terminal Terboyo, Semarang. Pikiranku sedang kacau, aku butuh pelukan hangat Eyang. Sesampainya aku di Semarang, aku segera bergegas ke rumah sakit menuju ke kamar Eyang. Disana, kudapati seluruh keluarga telah berkumpul.

     "Aden" Eyang memanggilku "Iya, Eyang" "Kene le, Eyang arep ngomong karo sampeyan(sini nak, Eyang mau ngomong sama kamu)." Akupun mendekat ke sisi Eyang "Ojo sedih yo le, rencanane pengeran mesti luwih apik ketimbang rencanane menungso(jangan sedih ya nak, rencana Tuhan pasti lebih baik daripada rencana manusia)". Beberapa saat kemudian, Eyang mengeluarkan air mata sambil tersenyum. Mukut beliau mengucap "Laa Ilaha Illallah". Eyang pergi meninggalkan kita semua, beliau telah kembali ke pangkuan ilahi.

     Tangis pun pecah memenuhi seisi ruangan, tim medis segera datang menyuruh kami untuk keluar. Aku memandangi jasad Eyang berkali-kali dikejutkan dengan alat kejut namun tak dapat mengembalikan ruh ke tubuh Eyang lagi. Hujan turun di kedua kelopak mataku. 

     Walaupun aku tau bahwa tangis tak dapat mengembalikan Eyang. Setidaknya, tangisan inilah yang menjadi saksi bahwa aku adalah cucu yang bodoh. Meninggalkan Eyang dikala beliau sedang sakit parah bukan malah merawatnya. Ucapan Eyang tadi adalah salam perpisahan.

     Aku teringat kembali akan ucapan itu. Untuk apa aku menyesali semua ini, "Rencanane pengeran iku mesti luwih apik ketimbang rencanane menungso". Kuambil tisu untuk mengusap kedua mata yang sembab. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri, sekarang saatnya aku membahagiakan Eyang dengan menjadi cucu yang terbaik baginya....... 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Milenialisantri

Nahwiyyah Jawiyyah

Mempertahankan Eksistensi Pesantren di Tengah Gempuran Ngaji Online