Rubuhnya Pohon Cinta
*Ini adalah kisah fiktif, adapun kesamaan nama, waktu, ataupun tempat adalah ketidaksengajaan yang disengaja.
![]() |
| Sumber : www.freepik.com |
Terik matahari membangunkanku saat pasukan raja Alien hampir saja aku kalahkan demi menyelamatkan tuan putri Elenia. "Hoamzz, dikit lagi pengen nyelametin tuan putri tuh padahal. Malah kebangun, huh" kesalku pada matahari yang tak pernah mengucapkan selamat pagi seperti dalam film Teletubbies. "Aden, bangun nak. Mandi sana, siap-siap ke sekolah. Ibu udah siapin nasi goreng kesukaan kamu" teriak ibuku dari luar kamar. "Iya, bu". Aku beranjak dari singasana empuk melaksanakan apa yang ibu titahkan.
Setelah aku mandi, mempersiapkan buku, dan sarapan pagi. Aku pergi ke sekolah dengan motor supra x pemberian kakek, entah sudah berapa lama motor itu menemani perjalanan kakek mengelilingi Jakarta. Sebagaimana anak SMA di Jakarta pada umumnya, berangkat pagi pulang sidang, eh siang. Pagi itu, aku disambut oleh kebisingan Ibukota. Hilir mudik para pengendara yang saling serobot demi menghindari omelan bos di kantor ataupun gerbang sekolah yang ditutup satpam.
Di sekolah, aku duduk di kelas XI IPS B. Kata orang kelas IPS itu isinya anak-anak nakal. Hmmm,,, ada benarnya tapi tak sepenuhnya benar. Apa yang kualami di kelasku berbeda. Tak jarang aku menemukan orang cerdas, berbakat, skeptis, dan manusia keren lainnya. Ada satu orang yang membuatku terpana ketika pertama kali melihatnya. Namanya Ivanna, panggil saja Anna. Siswi kelas XI IPA A yang menjadi pusat perhatian satu sekolah. Senyumnya memikat, menjadikan si penyakitan lupa minum obat. Tatapan matanya tajam kepada mereka yang tak kenal, hangat kepada mereka yang telah lama akrab.
Ivanna adalah gadis yang super duper cuek dan jutek. Kurasa, laki-laki yang berhasil mendapatkan hatinya adalah laki-laki yang beruntung karena mendapatkan perhatian lebih dari makhluk yang hatinya seperti batu karang. Oiya, btw dia satu organisasi denganku di bawah naungan OSIS. Hal itulah yang kemudian menjadikan kami sedikit demi sedikit semakin akrab lama-lama aku jadi sarap, eh.
"Den, ini kertas puisi anak-anak mau ditaro mana?" ujar Ivanna. "Taro aja di laci, na. Biasanya juga kalo ada kertas lomba ditaro situ sama pak Ketua" jawabku. Jujur, aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari dirinya tapi aku malu pada diri sendiri. Aku membatin "Argh, andai saja aku bisa memiliki ruang dalam hatimu anna". Sejauh ini, aku tak tau letak rumah Ivanna. Namun, entah kenapa semenjak obrolan hari itu, aku menjadi penasaran untuk mencari tau dimanakah letak rumah anna.
Dan ternyata,,,, ia adalah pemilik rumah pohon mangga. Hah? Rumahnya dari pohon mangga? Bukan bukan. Tapi, di depan rumahnya ada pohon Mangga. Sejak kecil, aku ingin sekali memetik buah Mangga di depan rumah tersebut. Apalah daya, aku tak kenal siapa pemilik rumah tersebut ataupun anaknya. Tertundalah impianku meraih mangga itu selama 8 tahun lebih. Sekarang, aku telah mengetahui siapa pemilik rumah itu. Sayangnya, pohon Mangga tersebut telah ditebang 2 tahun silam. Huffttt
Setelah aku mengetahui letak rumah Anna, aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan-jalan entah kemana. Intinya aku mau jalan sama dia, titik!. Aku mengirim chat via whatsapp "Anna, lu hari kamis kosong ga?" "Kenapa emangnya, den?" jawabnya "Jalan-jalan yuk. Mau ga?" "Hmmm,,, ok deh. Tapi kemana?" "Gatau, hehe. Keliling aja, mumpung tanggal merah tuh" "Oke" "Sip, nanti gua kabarin". Sungguh senangnya aku, ia langsung mengiyakan ajakanku. Saking senangnya, aku tertawa dan tersenyum layaknya orang tak waras. Memang benar, ketika cinta telah berlabuh, akal sehat hengkang sedangkan hati memainkan perannya.
Kamis....
Akhirnya, tibalah saat yang telah kutunggu. Ehh tapi,,, hujan turun dari pagi hingga siang. Awalnya aku sedikit kecewa. Notifikasi chat dari Anna muncul "Den, gimana nih?" "Gimana ya. Hmmm, coba kita tunggu sampe rada siangan. Semoga aja ujannya reda" "Oke, kabarin aja ya". Jam 2 siang pelangi menampakkan keceriaannya, sepertinya semesta sedang berada di pihakku kali ini. Langsung saja kukeluarkan supra x jagoanku, menjemput pemilik pohon Mangga. Sebelum berangkat, aku memberitahunya "Anna, otw nih" "Oke, ditunggu".
Sesampainya di depan rumah Anna, ia mengirim chat "Den, lu tunggu depan gang aja." kunyalakan motorku kembali, mengikuti arahan Ivanna. 5 menit aku menunggu, datanglah seorang gadis dengan celana jeans coklat, sweater, dan tas kecil di tangannya. "Widih rapih amat, neng. Haha" "Iyalah, hehe. Mau kemana nih kita?" "Gatau, intinya gua mau nyulik elu dulu. Ayo naek". Gerimis masih terasa, jalanan dipenuhi genangan air bekas hujan sejak pagi hingga siang tadi. "Na, enaknya kalo dingin-dingin gini tuh makan bakso" "Boleh tuh" "Oke meluncur". Sesampainya di kedai bakso, anna memesan dua porsi bakso spesial. Hehe iya dong spesial. 10 menit menunggu, hidangan pun dibawa ke meja oleh pelayan.
Dari gigitan bakso pertama hingga gigitan terakhir, mataku tak dapat menatap wajahnya. Aku tak kuasa. Selesai makan, aku mengajaknya mengobrol. Berbicara banyak hal, mulai dari OSIS hingga kehidupan kami masing-masing. "Anna, paman lu camat disini ya?" "Bukan, den. Paman gua lurah di kampung sebelah." "Owalah, hehe." "Ko lu kenal sama ncang gua dah" "Lagian ncang lu sering disebut kalo lagi pengumuman tromol jumat. Eh, yaudah balik yuk. Udah sore nih" "Oke, gua juga udah ditanyain sama ayah" "Oh dirumah ada ayah. Mas, pesen satu lagi ya dibungkus" "Makasih lho den" "Iya, sama-sama. Santai aja"
Karena waktu telah menunjukkan pukul 4 petang, akupun mengantarkannya pulang ke rumah. "Na, lu suka dengerin musik?" "Suka" "Lagu apa?" "Menepi" "Owalah, yang itu". Selama perjalanan pulang, kami menyanyikan lagu itu bersama. "Mencintai dalam sepi dan rasa sabar manalagi yang harus kupendam dalam mengagumi dirimu. Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi".......
Bersambung.....

Aden gak pernah sholat shubuh ya...? ibunya juga bangunin kok pas matahari udah terbit 🤣
BalasHapus"Aden, bangun nak. Mandi sana, siap-siap ke sekolah. Ibu udah siapin nasi goreng kesukaan kamu" teriak ibuku dari luar kamar. "
Dhuha pake sayap di sekolah
Hapus