Rubuhnya Pohon Cinta (2)

 *Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya. Selamat membaca.....

Sumber: www.pixabay.com

     Liburan akhir pekan kali ini aku diajak mengunjungi Eyang di Semarang oleh ayahku. Ayahku berasal keturunan Jawa sementara ibu keturunan Betawi. Mereka mulai saling mengenal sejak duduk di bangku perkuliahan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melegalkan hubungan asmara dalam ikatan rumah tangga. Kemudian tak lama, lahirlah aku ke dunia yang penuh drama ini. Yah anggap saja panggung sandiwara.

     Bukan tanpa alasan kami mengunjungi Eyang, beliau sedang jatuh sakit yang lumayan parah. Beberapa hari lalu, beliau terjatuh di dalam kamar mandi yang mengakibatkan kepala Eyang terbentur keras dengan lantai. Oleh karena itu, beliau langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat seketika itu juga. Kata dokter, benturan yang beliau alami membuat beberapa fungsi otak mengalami penurunan sehingga diperlukan perawatan secara intensif. Setelah berembuk dengan keluarga, Ayah memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Semarang sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

     "Terus sekolahku gimana, yah?" tanyaku pada Ayah "Aden nerusin pendidikan di Semarang aja ya, nanti ayah urusin semua berkas-berkasnya. Lagipula, disini juga banyak ko sekolah-sekolah yang gak kalah hebat sama sekolah yang ada di Jakarta". Melihat keadaan Eyang terbaring di atas kasur Rumah Sakit membuatku tak dapat menolak perintah Ayah. Keesokan harinya, kami kembali ke Jakarta untuk mengambil barang-barang dan mengurus surat pindahanku dari sekolah.

     Sesampainya kami di rumah, aku mendapati sebuah novel yang telah lama kubeli namun masih terbungkus rapi dengan plastik yang belum kubuka. Novel itu tergeletak diatas meja belajarku. Aku memotretnya dan mengirimkan foto itu ke Ivanna. Aku bertanya "Lu suka baca novel, na?" "Suka, den." "Novel apa aja?" "Bebas si kalo guamah" "Lu mau ga novel gua tadi itu?" "Wkwk, mau mau." "Yaudah, lu tunggu depan gang rumah lu ya. Gua otw sekarang nih" "Siap, bos". Aku bergegas menuju ke depan gang rumah Ivanna sambil menenteng novel yang ingin kuberikan padanya.

     Ternyata, ia telah sampai disana terlebih dahulu. "Hai..." aku menyapanya duluan "Hai juga, aden..." "Ini novelnya, na. Jangan lupa dijaga dan dibaca yaa" "Iya, den. Siap" "Anggep aja itu kenang-kenangan dari gue" Ivanna terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya dari buku menuju ke arahku. "Lho, lu mau pergi kemana emangnya?" "Gua pindah rumah ke Semarang, na. Entah sampe kapan. Eyang gua sakit parah soalnya" "Terus? Lu kan masih bisa tinggal disini sama engkong lu" "Gabisa, na. Ayah nyuruh gua buat pindah sekolah disana. Katanya biar gak ketinggalan pelajaran". 

     Kami terdiam selama beberapa detik. Kemudian aku melanjutkan "Na, gua mau jujur. Maaf ya na, gua sering merhatiin lu dari jauh tanpa lu sadari. Bahkan, sejak pertama kali masa orientasi di sekolah, gua udah suka sama lu. Tapi, gua rasa buat ngedapetin hati lu itu gak mudah. Yang penting sekarang gua udah jujur tentang perasaan gua ke elu, memang terkesan terburu-buru. Gua gamau nunda-nunda, karena besok gua harus balik lagi ke Semarang" mendengar ucapanku, Ivanna tertegun. Ia berkata "Gua juga suka sama lu, den". 

     Hah? Apakah ini mimpi? Aku langsung melompat kegirangan dan melempar senyum kepada Ivanna. Aku bilang "Berarti mulai hari ini kita resmi pacaran nih?" "Gini, den. Terserah lu mau anggap gua apa. Tapi, kalo ada yang nanya tentang status lu, gua bakal jawab temen deket". Pernyataan Ivanna agak janggal sebenarnya, tapi tidak apa lah. Soal nama itu tidak penting-penting amat, yang penting substansinya. "Hmm. Yaudah deh, na. Masih ada barang-barang yang belum gua beresin di rumah" "Ohh, iya den. Hati-hati di jalan ya, semangat beres-beresnya. Hehe" "Siap bos". 

     Aku berlari menuju rumah sambil tersenyum bahagia, kenapa tidak? Siapakah pecinta yang tak bahagia tatkala mengetahui bahwa yang dicinta pun memiliki perasaan yang sama?. Sesampainya di rumah, aku langsung membereskan semuanya dengan cepat agar dapat berbalas chat dengan Ivanna, kekasihku. Mulai hari itu, tak ada lagi yang perlu aku tutupi. Kami saling mengetahui perasaan satu sama lain. Menyayangi, memberi perhatian, dan bertukar tawa. Esok harinya, aku menuliskan pesan chat kepadanya "Anna, gua pamit ya. Jaga diri dan hati, okay?" "Iya, den. Elu juga yaa. Semangat belajarnya, aden." "Iya na, kamu juga".

     Perjalanan Jakarta-Semarang kurang lebih memakan waktu sekitar 6 hingga 7 jam. Dalam perjalanan tersebut, aku tak henti-hentinya mendengarkan lagu Menepi kesukaan Ivanna di dalam mobil. Setiap kali aku mendengarkan lagu itu, aku teringat akan sosoknya. Aku coba bertanya lewat chat padanya "Anna, ulang tahun lu tanggal berapa ya?" "15 November, den" "Owalah, happy birthday ya. Selamat ulang tahun, semoga cita-cita dan harapan lu dapat tercapai semuanya" "Lho, ko lu ngucapinnya sekarang si? Kan masih lama lho, 4 bulan lagi" "Iya, na. Gua pengen jadi yang lebih dulu ngucapin itu ketimbang orang lain. Hadiahnya juga udah kan tuh? Wkwk"  "Aden aden, lu ada-ada aja deh. Haha."

     Setelah itu, mataku diserang rasa kantuk yang tak dapat ditahan. Aku memutuskan untuk mempersilahkan kantuk datang hingga aku tertidur dalam pelukan mimpi. Di dalam mimpi, aku melihat Eyang melambaikan tangan kepadaku. Beliau bilang "Aden, Eyang kangen sama kamu. Kamu di Semarang aja, gausah balik lagi ke Jakarta yah." aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Eyang. Ketika bangun, aku langsung meneteskan air mata. Teringat akan Eyang yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.

Bersambung..... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Milenialisantri

Nahwiyyah Jawiyyah

Mempertahankan Eksistensi Pesantren di Tengah Gempuran Ngaji Online